Babe News - Bekasi, 04/02/2026. Peristiwa meninggalnya seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri, menuai keprihatinan mendalam dari berbagai pihak. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani atau Ari, menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan anak-anak menghadapi tekanan hidup sendirian, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan dasar pendidikan.
Ari menilai, jika dugaan motif ekonomi dalam peristiwa ini benar, maka hal tersebut menjadi sinyal kuat bahwa perlindungan negara terhadap anak-anak dari keluarga miskin masih belum optimal. “Jangan sampai anak-anak memikul beban hidup sendirian. Apalagi jika menyangkut kebutuhan belajar, itu jelas menjadi tanggung jawab negara,” ujar Ari saat dimintai tanggapan, Selasa (3/2/2026).
Ia menyebut, kejadian ini bukan sekadar musibah biasa, melainkan tragedi kemanusiaan yang seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Menurut Ari, tekanan ekonomi yang dialami anak bisa berdampak serius pada kondisi mental dan keberlangsungan pendidikan mereka.
“Ke depan, negara harus memperkuat jaring pengaman sosial di sekolah. Tidak boleh ada satu pun anak yang merasa putus asa hanya karena keterbatasan ekonomi,” tegasnya.
Selain peran negara, Ari juga mengingatkan pentingnya kepekaan orang tua, keluarga, serta lingkungan sekitar terhadap kondisi psikologis anak. Ia menekankan agar keluhan anak, sekecil apa pun, tidak dianggap sepele. “Anak-anak perlu didengar dan didampingi. Dukungan emosional itu sama pentingnya dengan bantuan materi,” tambahnya.
Dikutip dari laporan Kompas.id, korban berinisial YBS (10), siswa kelas IV SD di Ngada, diduga mengakhiri hidupnya setelah merasa putus asa dengan kondisi ekonomi keluarganya. Kejadian ini disebut sebagai tamparan keras bagi negara dalam menjamin hak pendidikan anak.
YBS diketahui berasal dari keluarga kurang mampu. Saat meminta uang kepada ibunya, MGT (47), untuk membeli buku dan pena dengan harga kurang dari Rp10.000, permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Bagi mereka, nominal tersebut bukan perkara kecil.
MGT bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan. Ia seorang janda yang harus menanggung hidup lima anak. Demi meringankan beban sang ibu, YBS kemudian tinggal bersama neneknya yang sudah lanjut usia di sebuah pondok sederhana. Tak jauh dari tempat tinggal tersebut, YBS ditemukan meninggal dunia dalam kondisi yang mengarah pada dugaan bunuh diri.
Sumber : Kompascom
Editor : Tia



