Kasus Siswa SD di Ngada Tewas Gantung Diri Dihentikan, Polisi Pastikan Tidak Ada Unsur Pidana

Babe News - Bekasi, 09/02/2026. Kepolisian Resor (Polres) Ngada resmi menghentikan penyelidikan terkait kematian seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS (10), yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkih di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026, dan sempat mengundang perhatian masyarakat karena korban masih berusia sangat muda dan duduk di bangku kelas IV SD.
Korban Sempat Minta Uang untuk Beli Alat Tulis
Berdasarkan keterangan yang dihimpun polisi, sebelum kejadian korban sempat meminta uang kepada ibunya. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk membeli kebutuhan sekolah seperti buku dan pulpen.
Namun, karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, sang ibu belum bisa memenuhi permintaan tersebut. Situasi itu diduga membuat korban merasa sedih dan tertekan.
Kapolres Ngada: Tidak Ditemukan Unsur Tindak Pidana
Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, menjelaskan bahwa setelah dilakukan rangkaian penyelidikan, pihak kepolisian tidak menemukan adanya indikasi tindak pidana dalam kematian korban.
Karena itu, penyelidikan resmi dihentikan.
“Diputuskan untuk menghentikan penyelidikan karena penyebab kematian korban bukan merupakan tindak pidana,” kata Andrey Valentino dalam keterangannya pada Minggu (8/2/2026).
Valentino menegaskan bahwa kesimpulan tersebut diambil berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan dan bukti-bukti yang dikumpulkan selama proses penyelidikan.
Pemeriksaan Dilakukan Sesuai Fakta Lapangan
Kapolres menegaskan penyidik bekerja secara profesional dan tidak hanya mengandalkan asumsi. Semua langkah dilakukan dengan melihat fakta serta memastikan tidak ada unsur kekerasan maupun tindakan yang mengarah pada kriminalitas.
Ia juga menyampaikan bahwa penyebab kematian korban dinyatakan murni akibat bunuh diri.
Polisi Periksa 11 Orang Saksi
Dalam proses penyelidikan, polisi telah memeriksa 11 orang saksi, termasuk tenaga medis yang melakukan pemeriksaan visum serta guru-guru dari sekolah tempat korban belajar.
Selain itu, kepolisian juga melibatkan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD-PPA) untuk membantu memastikan arah penyelidikan serta memperkuat analisis terkait kondisi korban sebelum meninggal.
Tidak Ada Tanda Kekerasan dan Tidak Ditemukan Kasus Bullying
Kapolres juga menyampaikan bahwa berdasarkan hasil visum, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Selain itu, pihak kepolisian memastikan korban tidak mengalami perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
“Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi dan visum, tidak ditemukan adanya kekerasan. Korban juga tidak mengalami perundungan di sekolah,” jelasnya.
Keluarga Mengalami Kesulitan Ekonomi
Dalam penjelasannya, Valentino turut menyinggung kondisi ekonomi keluarga korban yang memang terbatas. Ia mengatakan keluarga korban sering terlambat membayar biaya sekolah.
Namun, biaya tersebut akhirnya dapat dilunasi setelah orang tua korban menjual hasil panen dari kebun mereka.
“Meskipun keluarga korban memang mengalami keterbatasan ekonomi dan sering terlambat bayar biaya sekolah, biaya tersebut akhirnya dibayar lunas setelah orangtua menjual hasil panen dari kebun,” ujar Valentino.

Sumber : kompascom
Editor : Tia
Share:

Kasus Siswa SD di Ngada Tewas Gantung Diri Dihentikan, Polisi Pastikan Tidak Ada Unsur Pidana

Babe News - Bekasi, 09/02/2026. Kepolisian Resor (Polres) Ngada resmi menghentikan penyelidikan terkait kematian seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS (10), yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkih di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026, dan sempat mengundang perhatian masyarakat karena korban masih berusia sangat muda dan duduk di bangku kelas IV SD.
Korban Sempat Minta Uang untuk Beli Alat Tulis
Berdasarkan keterangan yang dihimpun polisi, sebelum kejadian korban sempat meminta uang kepada ibunya. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk membeli kebutuhan sekolah seperti buku dan pulpen.
Namun, karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, sang ibu belum bisa memenuhi permintaan tersebut. Situasi itu diduga membuat korban merasa sedih dan tertekan.
Kapolres Ngada: Tidak Ditemukan Unsur Tindak Pidana
Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, menjelaskan bahwa setelah dilakukan rangkaian penyelidikan, pihak kepolisian tidak menemukan adanya indikasi tindak pidana dalam kematian korban.
Karena itu, penyelidikan resmi dihentikan.
“Diputuskan untuk menghentikan penyelidikan karena penyebab kematian korban bukan merupakan tindak pidana,” kata Andrey Valentino dalam keterangannya pada Minggu (8/2/2026).
Valentino menegaskan bahwa kesimpulan tersebut diambil berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan dan bukti-bukti yang dikumpulkan selama proses penyelidikan.
Pemeriksaan Dilakukan Sesuai Fakta Lapangan
Kapolres menegaskan penyidik bekerja secara profesional dan tidak hanya mengandalkan asumsi. Semua langkah dilakukan dengan melihat fakta serta memastikan tidak ada unsur kekerasan maupun tindakan yang mengarah pada kriminalitas.
Ia juga menyampaikan bahwa penyebab kematian korban dinyatakan murni akibat bunuh diri.
Polisi Periksa 11 Orang Saksi
Dalam proses penyelidikan, polisi telah memeriksa 11 orang saksi, termasuk tenaga medis yang melakukan pemeriksaan visum serta guru-guru dari sekolah tempat korban belajar.
Selain itu, kepolisian juga melibatkan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD-PPA) untuk membantu memastikan arah penyelidikan serta memperkuat analisis terkait kondisi korban sebelum meninggal.
Tidak Ada Tanda Kekerasan dan Tidak Ditemukan Kasus Bullying
Kapolres juga menyampaikan bahwa berdasarkan hasil visum, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Selain itu, pihak kepolisian memastikan korban tidak mengalami perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
“Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi dan visum, tidak ditemukan adanya kekerasan. Korban juga tidak mengalami perundungan di sekolah,” jelasnya.
Keluarga Mengalami Kesulitan Ekonomi
Dalam penjelasannya, Valentino turut menyinggung kondisi ekonomi keluarga korban yang memang terbatas. Ia mengatakan keluarga korban sering terlambat membayar biaya sekolah.
Namun, biaya tersebut akhirnya dapat dilunasi setelah orang tua korban menjual hasil panen dari kebun mereka.
“Meskipun keluarga korban memang mengalami keterbatasan ekonomi dan sering terlambat bayar biaya sekolah, biaya tersebut akhirnya dibayar lunas setelah orangtua menjual hasil panen dari kebun,” ujar Valentino.

Sumber : kompascom
Editor : Tia
Share:

300 Personel Gabungan Turun Bersih-Bersih Sisa Banjir di Grand Cikarang City Bekasi

Babe News - Bekasi, 09/02/2026. Sebanyak 300 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat setempat dikerahkan untuk melakukan kerja bakti membersihkan sisa banjir di Perumahan Grand Cikarang City (GCC), Desa Karangraharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.
Aksi kerja bakti tersebut dilakukan untuk mempercepat pemulihan lingkungan setelah banjir merendam kawasan permukiman warga beberapa waktu lalu. Pembersihan dilakukan mulai dari jalan perumahan, selokan, hingga saluran air yang dipenuhi lumpur serta sampah rumah tangga.
Plt Bupati Bekasi: Ini Tindak Lanjut Arahan Presiden
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengatakan kegiatan kerja bakti ini merupakan bagian dari tindak lanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Sentul, Bogor, beberapa waktu lalu, terkait penanganan pascabanjir.
Menurut Asep, pembersihan lingkungan harus segera dilakukan agar aktivitas warga dapat kembali normal dan risiko penyakit akibat banjir bisa ditekan.
“Saya bersama jajaran TNI dan Polri, dibantu relawan dan masyarakat, hari ini fokus melakukan aksi bersih-bersih lingkungan di perumahan terdampak banjir. Ini merupakan tindak lanjut arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujar Asep saat ditemui di lokasi, Minggu.
Dikerahkan Truk Sampah dan Personel Satpol PP
Untuk mendukung kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bekasi turut menurunkan 10 armada truk pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup. Selain itu, Satpol PP juga diterjunkan guna membantu proses pengangkatan lumpur, pembersihan sedimen, dan pengangkutan sampah yang menyumbat aliran air.
Petugas membersihkan tumpukan lumpur yang mengendap di selokan serta sampah yang menumpuk di saluran air, karena kondisi tersebut dinilai dapat memperparah genangan bila hujan kembali turun.
Analisis Lapangan: GCC Jadi Salah Satu Titik Aliran Air Pemicu Genangan
Asep menjelaskan, hasil analisis lapangan bersama pihak kepolisian dan TNI menunjukkan kawasan perumahan GCC diduga menjadi salah satu titik yang menjadi jalur aliran air sehingga banjir menyebar ke permukiman warga.
Karena itulah, kerja bakti difokuskan di kawasan tersebut sebagai langkah awal penanganan.
“Dari analisa yang kami lakukan bersama Kapolres dan Dandim kemarin malam, ternyata kawasan ini menjadi salah satu sumber aliran air. Maka hari ini kita lakukan pembersihan serentak,” jelasnya.
Pendangkalan Drainase dan Alih Fungsi Lahan Jadi Penyebab Banjir
Lebih lanjut, Asep menyebut banjir yang melanda kawasan tersebut dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya pendangkalan saluran air, kondisi drainase yang kurang memadai, serta alih fungsi lahan.
Ia menuturkan, wilayah yang sebelumnya merupakan hamparan sawah kini berubah menjadi kawasan permukiman, namun pembangunan drainase tidak diimbangi dengan sistem pembuangan air yang baik.
“Dulu daerah ini masih berupa hamparan sawah, tapi sekarang sudah jadi perumahan. Drainasenya juga kurang optimal, akibatnya banjir hampir merata,” ucapnya.
Kapolres Bekasi: Kerja Bakti Ini Juga Instruksi Polri
Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol. Sumarni, menambahkan bahwa kegiatan bersih-bersih ini juga merupakan agenda rutin yang menjadi instruksi institusi Polri, yang dilakukan setiap pekan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Ia menyebut personel dari kepolisian, polsek setempat, serta TNI dari Koramil turut membantu pemerintah daerah dalam kegiatan tersebut.
“Ini instruksi dari Bapak Kapolri dan Bapak Kapolda Metro Jaya. Setiap Jumat kami rutin melaksanakan bersih-bersih lingkungan, dan hari ini meskipun Minggu tetap kita lakukan karena situasi pascabanjir,” kata Sumarni.
Masyarakat Diimbau Tidak Buang Sampah Sembarangan
Dalam kesempatan itu, Sumarni juga mengingatkan warga agar lebih disiplin menjaga kebersihan lingkungan, terutama tidak membuang sampah ke selokan maupun sungai karena dapat menyebabkan saluran tersumbat.
Menurutnya, banjir tidak hanya dipengaruhi curah hujan, tetapi juga perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan.
“Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kesadaran untuk menjaga kebersihan. Jangan buang sampah sembarangan, terutama ke saluran air. Ini tanggung jawab bersama agar banjir tidak terus berulang,” tegasnya.

Sumber : antaranews
Editor : Tia
Share:

Berita Populer